Belajar didefinisikan sebagai
perubahan perilaku seseorang dalam situasi tertentu yang disebabkan oleh “pengalaman
berulang” terhadap situasi tersebut. Dalam tinjauan psikologi kognitif belajar
diartikan sebagai The process of acquiring knowledge (proses memperoleh pengetahuan). Pengalaman yang dimaksud adalah
pengalaman hidup yang dialami oleh si pelajar agar menjadi mandiri. Belajar
erat kaitannya dengan pengembangan kognitif (penguasaan intelektual), afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) danpsikomotorik (keterampilan bertindak atau berprilaku). Dalam pandangan pakar
psikologi belajar kognitifis, keberhasilan belajar di ukur oleh kematangan
kognisi si pelajar, dalam hal ini otak sebagai organ tubuh yang berkaitan
dengan intelejensi, menjadi sangat dominan sebagai pusat memori.
Teori pembelajaran pemrosesan
informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana
pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan
informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik
mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar, namun yang lebih
penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi,
sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Teori sibernetik berasumsi
bahwa tidak ada satu proses belajar pun yang ideal untuk segala situasi, dan
yang cocok untuk semua siswa. Asumsi ini didasarkan pada suatu pemahaman yaitu
cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi. Dengan penjelasan saat
seorang siswa dapat memperoleh informasi dengan satu proses dan siswa yang lain
juga dapat memperoleh informasi yang sama namun dengan proses belajar yang
berbeda.
Pemrosesan informasi itu
sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta
didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan
dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori
dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model
mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam
hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data,
menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu
menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan
orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam
mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan
yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
Teori Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Robert Mills Gagne
Teori pembelajaran pemrosesan
informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana
pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan
informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji proses belajar
penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian proses belajar
itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya
akan menentukan proses belajar.
Penjelasan lebih lanjut dari
Bambang Warsita, bahwa berdasarkan kondisi internal dan eksternal ini, Gagne
menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang
dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu
sebagai berikut :
1. Rangsangan yang diterima panca
indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2. Informasi dipilih secara
selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan
ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori ini tercampur
dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah
dilakukan pengolahan.
Seperangkat proses yang
bersifat internal yang dimaksud oleh Gagne adalah kondisi internal yaitu
keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan
terjadinya proses kognitif dalam diri individu. Sedangkan kondisi eksternal
adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses
pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi
bermula dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting
dalam perkembangan. Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran.
Menurut teori ini, belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori
ini menganggap sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari
siswa adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan
proses dan bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem
informasi yang dipelajari.
Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori
belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The Condition of
Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti belajar konsep
dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The Condition of Learning”
mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich
persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a
groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne
disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in
probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning
theory, a cognitive strategy is a control process. An internal process by means of which thinking. Gagne
mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan
kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru.
Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa.
Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang
belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari
sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus
memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian
instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa
memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima
pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru
yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka
panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali.
5. Fase pemanggilan : pemanggilan
dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya
antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya
informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di
mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku
yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu
sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar
kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa
harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah
mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Penerapan teori yang salah
dalam situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang
sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap
otoriter, komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan menentukan
apa yang harus dipelajari murid. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para
tokoh behavioristik dianggap metode paling efektif untuk menertibkan siswa.
Asumsi
yang mendasari teori-teori pemrosesan informasi menjelaskan tentang (1) hakekat
sistem memori manusia, dan (2) cara bagaimana pengetahuan digambarkan dan
disimpan dalam memori. Konsepsi lama mengenai memori manusia adalah bahwa
memori itu semata-mata hanya tempat penyimpanan untuk menyimpan informasi dalam
waktu yang lama, sehingga memori diartikan sebagai koleksi potongan-potongan
kecil informasi yang terlepas-lepas atau saling tidak ada kaitannya. Akan
tetapi pada tahun 1960-an memori manusia mulai dipandang sebagai suatu struktur
yang rumit yang mengolah dan mengorganisasi semua pengetahuan manusia
Metode ini sangat cocok untuk
pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung
unsur kecepatan spontanitas kelenturan daya tahan. Teori ini juga cocok
diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang tua.
Kekurangan metode ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru
bersifat mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif,
murid hanya mendengarkan, menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai
sentral dan bersifat otoriter.
Teori Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Atkinson
Atkinson dan Shiffin dalam
Levitin (2002:296) menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis,
yaitu sensori memori (sensory register) yang menerima informasi melalui
indra penerima seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah
beberapa detik informasi tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan
jangka pendek (short term memory atau working memory). Informasi tersebut setelah 5
– 20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam ingatan jangka panjang (long
term memory).
Teori pemrosesan informasi
berpijak pada tiga asumsi sebagaimana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih
(2005:82) bahwa: (a) antara stimulus dan respon terdapat suatu seri pemrosesan
informasi di mana pada masing-masing tahapan
dibutuhkan sejumlah waktu tertentu, (b) stimulus yang diproses
melalui tahapan tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau isinya, dan
(c) salah satu dari tahap memiliki keterbatasan kapasitas.
Proses pengolahan informasi
dalam ingatan manusia diolah dalam tahapan yang berurutan, dan tiap tahapan
terjadi struktur tertentu dalam sistem memori. Pencatat indra khususnya visual
dan pendengaran, menerima isyarat-isyarat yang luas sekali macamnya dari
lingkungan. Beberapa informasi disimpan sebentar (0,5 sampai 2,0 detik) saja di
dalam pencatat indera. Informasi yang telah dipilih untuk diolah lebih lanjut
masuk kedalam memori jangka pendek atau memori kerja.
Sedangkan informasi yang tidak
diakomodir untuk diolah lebih lanjut selanjutnya akan hilang dari sistem. Dalam
memori kerja atau jangka pendek informasi tersebut selanjutnya disandikan
menjadi wujud yang bermakna dan dikirim ke memori jangka panjang untuk disimpan
secara tetap. Proses penyandian informasi dan pengiriman ke memori jangka
panjang merupakan fase inti dari belajar.
Letivin (2002:322) menyatakan
terdapat tiga jenis informasi di dalam memori yang mudah untuk diingat kembali
adalah informasi yang disampaikan secara terus menerus, informasi tentang
hal-hal yang terbaru, dan informasi tentang kejadian-kejadian yang tidak biasa
dialami. Dengan demikian, pengulangan adalah yang terpenting dalam sistem
memori manusia. Dengan pengulangan akan memudahkan informasi yang berada di
ingatan jangka pendek masuk ke ingatan jangka panjang dan lebih mudah untuk
memanggil kembali informasi yang berada di ingatan jangka panjang muncul di
ingatan jangka pendek.
Implikasi dari teori pemrosesan
informasi yang memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori
manusia seperti layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki
keterbatasan kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa
dan menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi
yang diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan
aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik.
Modifikasi
Diri
Modifikasi diri dalam pemrosesan informasi secara mendalam
tertuang dalam metakognisi, yang berarti kognisi atau kognisi atau mengetahui
tentang mengetahui, yang di dalamnya terdapat dua hal yaitu pengetahuan
kognitif dengan aktivitas kognitif.
Pengetahuan kognitif melibatkan usaha monitoring dan
refleksi pada pemikiran seseorang pada saat sekarang, sedangkan aktivitas
kognitif terjadi saat murid secara sadar menyesuaikan dan mengelola strategi
pemikiran mereka pada saat memecahkan masalah dan memikirkan suatu tujuan.
Berkaitan dengan modifikasi diri Deanna Kuhn mengatakan
metakognisi harus lebih difokuskan pada usaha untuk membantu anak menjadi
pemikir yang lebih kritis, terutama di sekolah menengah. Baginya ketrampilan
kognitif terbagi dua, yaitu mengutamakan kemampuan murid untuk mengenali
dunia, dan ketrampilan untuk mengetahui pengetahuannya sendiri. (Jhon , 2011:
340)
PERMASALAHAN:
1.
Bagaimana
proses yag terjadi sehingga sewaktu-waktu ingatan yang kita miliki menjadi
hilang (lupa)?
2.
Apa
yang menyebabkan suatu informasi itu tidak dapat tersimpan di memori jangka panjang?
3.
Kekurangan
metode ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat
mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid
hanya mendengarkan, menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan
bersifat otoriter. Bagaimana cara mengatasi kekurangan tersebut?
4. Dari beberapa fase belajar diatas, fase
manakah yang membutuhkan bantuan media?
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1. Lupa dikarenakan informasi masuk pada memori jangka pendek. Memori jangka pendek mempunyai beberapa keterbatasan yang memebedakannya denganmemeori jangka panjang. Pertama, STM menghasilkan lupa dengan cepat, karena item tersebut tidak diulang-ulang. Penyebab terjadinya lupa karen interferensi. Kedua adalah masalah kapasitas. Miller mengidentifikasikan keterbatasan kapasitas hanya memuat tujuh chunk. Chunk merupakan sekelompok item yang tersimpan dalam unit LTM.
BalasHapusBaiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan yang ke-2
BalasHapusHal ini disebabkan karena informaai yang di terima kurang menarik atau sama sekali tidak berkesan bagi si pembaca sehingga informaai tersebut akan mudah untuk di lupakan. Dalam hal ini Miller menemukan bahwa orang memiliki keterbatasan dalam mengingatitem angka agar tetap aktif dalam memori mereka dan kapasitas yang terbatas ini memengaruhi performa mereka dalam berbagai tugas . Sebuah teori yang diusulkan oleh Atkinson dan Shiffrin (1968, 1971) yng menekankan pada interaksi antara penyimpanan sensoris, memori jangka pendek (STM), dan memori jangka panjang (LTM).
Memori jangka pendek bersifat terbatas baik dalam kapasitas maupun durasi. Informasi akan hilang dalam waktu 20-30 detik jika tidak diulang-ulang. STM dibutuhkan ketika kita menyelesaikan sebagian besar tugas-tugas kognitif yang mencerminkan peran penting STM sebagai sebuah memori kerja (working memory) yang menjaga dan memanipulasi informasi. STM juga dapat menggabungkan informasi, baik dari lingkungan maupun LTM kapanpun seseorang mencoba mempelajari informasi baru, membuat keputusan atau menyelesaikan masalah.
Memori jangka pendek mempunyai beberapa keterbatasan yang memebedakannya denganmemeori jangka panjang. Pertama, STM menghasilkan lupa dengan cepat, karena item tersebut tidak diulang-ulang. Penyebab terjadinya lupa karen interferensi. Kedua adalah masalah kapasitas. Miller mengidentifikasikan keterbatasan kapasitas hanya memuat tujuh chunk. Chunk merupakan sekelompok item yang tersimpan dalam unit LTM.
Sedangkan memori jangka panjang (LTM), memiliki kapasitas yang itdak terbatas dan dapat menahan informasi dalam jangka waktu yang lebih lama, namun sering kali memerlukan usaha yang keras agar dapat memasukan informasi ke memori ini. Atkinson dan Shiffrin memperhitungkan bahwa adanya efek posisi serial, mengingat lebih baik kata-kata di awal daftar dapat dijelaskan dengan adanya penyimpanan kata-kata tersebut di LTM, dan mengingat lebih banyak kata-kata di akhir daftar dapat dijelaskan dengan aadnya penyimpanan kat-kata tersebut. Sekian :)
Baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan yang ke-2
BalasHapusHal ini disebabkan karena informaai yang di terima kurang menarik atau sama sekali tidak berkesan bagi si pembaca sehingga informaai tersebut akan mudah untuk di lupakan. Dalam hal ini Miller menemukan bahwa orang memiliki keterbatasan dalam mengingatitem angka agar tetap aktif dalam memori mereka dan kapasitas yang terbatas ini memengaruhi performa mereka dalam berbagai tugas . Sebuah teori yang diusulkan oleh Atkinson dan Shiffrin (1968, 1971) yng menekankan pada interaksi antara penyimpanan sensoris, memori jangka pendek (STM), dan memori jangka panjang (LTM).
Memori jangka pendek bersifat terbatas baik dalam kapasitas maupun durasi. Informasi akan hilang dalam waktu 20-30 detik jika tidak diulang-ulang. STM dibutuhkan ketika kita menyelesaikan sebagian besar tugas-tugas kognitif yang mencerminkan peran penting STM sebagai sebuah memori kerja (working memory) yang menjaga dan memanipulasi informasi. STM juga dapat menggabungkan informasi, baik dari lingkungan maupun LTM kapanpun seseorang mencoba mempelajari informasi baru, membuat keputusan atau menyelesaikan masalah.
Memori jangka pendek mempunyai beberapa keterbatasan yang memebedakannya denganmemeori jangka panjang. Pertama, STM menghasilkan lupa dengan cepat, karena item tersebut tidak diulang-ulang. Penyebab terjadinya lupa karen interferensi. Kedua adalah masalah kapasitas. Miller mengidentifikasikan keterbatasan kapasitas hanya memuat tujuh chunk. Chunk merupakan sekelompok item yang tersimpan dalam unit LTM.
Sedangkan memori jangka panjang (LTM), memiliki kapasitas yang itdak terbatas dan dapat menahan informasi dalam jangka waktu yang lebih lama, namun sering kali memerlukan usaha yang keras agar dapat memasukan informasi ke memori ini. Atkinson dan Shiffrin memperhitungkan bahwa adanya efek posisi serial, mengingat lebih baik kata-kata di awal daftar dapat dijelaskan dengan adanya penyimpanan kata-kata tersebut di LTM, dan mengingat lebih banyak kata-kata di akhir daftar dapat dijelaskan dengan aadnya penyimpanan kat-kata tersebut. Sekian :)
Baiklah saudara ayu asmira , saya akan mencoba menjawab permasalahan anda yang ketiga yaitu berdasarkan artikel yang anda posting fase manakah yang memerlukan media ? jadi karena Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa, menurut saya media telah dapat digunakan dari awal yaitu fase motivasi untuk menarik perhatian dan minat siswa terhadap apa yang telah dipelajari .
BalasHapus