Pengembangan e-Learning
Dalam Pembelajaran Kimia
Beberapa masalah yang terjadi dalam
pembelajaran kimia di SMA adalah keterbatasan sumber belajar yang ada yaitu
hanya dengan menggunakan buku teks, banyak terdapat konsep-konsep abstrak,
lemahnya interaksi antara guru dan siswa di dalam kelas, kecepatan dan gaya
belajar siswa yang berbeda-beda dan keterbatasan waktu yang tersedia dalam
pembelajaran di kelas. Ken dn Middlecap (1994)
mengemukakan bahwa untuk dapat memahami suatu konsep dengan utuh, kita harus
mengenal konsep tersebut baik dari tingkat makroskopis maupun mikroskopisnya.
Solusi yang diharapkan mampuatau dapat mengatasi masalah-masalah tersebut
adalah dengan mengembangkan bahan ajar berbasis e-learning.
Bahan
ajar yang tersedia di sekolah biasanya hanya berupa buku teks. Menurut Direktorat
Pembinaan Sekolah Menemgah dan Atas (2010), bahn ajar dalah segala bentuk bahan
berupa seperangkat materi yng tersusun secara sistemtis untuk membantu guru/
instruktur dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan memungkinkan siswa
untuk belajar. Menurut Depdiknas (2008), bhn ajar dapat
dikembangkan dalam berbgi bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan dajn
karakteritik materi yang akan disajikan. Seiring dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, penggunaan alat bantu media pembelajaran menjadi
semakin luas dan interaktif seperti penggunaan computer atau internet.
Penggunan internet dalam prose pembelajaran dikenal dengan
istilah e-learning.
A.
Definisi e-Learning
e-Learning
atau pembelajaran elektronik, merupakan salah satu bentuk dari aplikasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kegiatan pembelajaran. Adapun
definisi e-Learning menurut ahli :
“A broad combination of processes, content, and infrastructure
to use computers and networks to scale and/or improve one or more significant
parts of a learning value chain, including management and delivery.” (Adrich
dalam Clark : 2010)
Clark
Adrich dalam bukunya yang berjudul “Simulations and the Future of Learning”
menekankan definisi e-Learning pada kerangka berpikir penggunaan jaringan
komputer. Ia menyatakan bahwa e-Learning merupakan sebuah kombinasi antara
proses, materi dan infrastruktur dalam penggunaan komputer dan jaringannya
dalam rangka meningkatkan kualitas pada satu atau lebih bagian signifikan dari
aspek-aspek rangkaian kegiatan pembelajaran, termasuk di antaranya adalah aspek
manajemen dan aspek pendistribusian materi pelajaran.
e-Learning
atau electronic learning merupakan pembelajaran yang disajikan secara
elektronik dengan menggunakan komputer dan media berbasis komputer. Media
komputer yang dimaksud di sini lebih berorientasi pada penggunaan teknologi
komputer dan internet.
“E-Learning is a broad set of applications and processes which
include web-based learning, computer-based learning, virtual and digital
classrooms. Much of this is delivered via the Internet, intranets, audio and
videotape, satellite broadcast, interactive TV, and CD-ROM. The definition of
e-Learning varies depending on the organization and how it is used but basically
it is involves electronic means of communication, education, and training.”
(The American Society for Training and Development/ASTD: 2009)
Organisasi Masyarakat Amerika untuk Kegiatan
Pelatihan dan Pengembangan (The American Society for Training and Development/ASTD)
memberikan definisi umum yang lebih spesifik terhadap metode maupun media
yang digunakan dalam proses e-Learning. Definisi ini dimuat dalam
situs web about-elearning.com. Definisi tersebut menyatakan
bahwa e-Learning merupakan proses dan kegiatan penerapan
pembelajaran berbasis web (web-based learning), pembelajaran berbasis
komputer (computer based learning), pendidikan virtual (virtual
education) dan/atau kolaborasi digital (digital collaboration).
Materi-materi dalam kegiatan pembelajaran elektronik tersebut kebanyakan
dihantarkan melalui media internet, intranet, tape video atau
audio, penyiaran melalui satelit, televisi interaktif dan CD-ROM. Definisi ini
juga menyatakan bahwa definisi dari e-Learning bisa bervariasi
tergantung dari penyelenggara kegiatan e-Learning tersebut dan
bagaimana cara penggunaannya, termasuk juga apa tujuan
penggunaannya.
e-Learning
merupakan sistem pembelajaran yang memanfaatkan media elektronik sebagai alat
untuk membantu kegiatan pembelajaran, yang dalam arti luas mencakup
pembelajaran yang dilakukan dengan media elektronik (internet) baik secara
formal maupun informal. Secara formal misalnya berupa kurikulum, silabus, mata
pelajaran, dan tes yang telah diatur sesuai jadwal oleh pihak-pihak terkait,
yaitu pengelola e-Learning.
Dengan
e-Learning pembelajaran akan lebih menarik karena tampilan di layarnya bisa
dibuat variatif yang menarik. Pembelajaran ini dapat juga disebut pembelajaran
jarak jauh yang dikelola oleh Perguruan Tinggi dan biasanya perusahaan
konsultan yang bergerak dibidang penyedia jasa e-Learning untuk umum. Sedang
secara informal misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau web
pribadi, dan perusahaan yang mensosialisasikan untuk masyarakat, dan biasanya jasa
seperti ini gratis.
Secara
sederhana dapat dikatakan bahwa pembelajaran elektronik (e-Learning) merupakan
kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (internet, LAN, MAN, WAN)
sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh
berbagai bentuk layanan belajar elektronik lain.
B.
Fungsi dan Tujuan e-Learning
1.
Fungsi e-Learning
e-Learning sebagai suatu model pembelajaran
yang baru memiliki beberapa fungsi terhadap kegiatan pembelajaran di dalam
kelas (classroom instruction). Siahaan dalam Kamil (2010), memaparkan fungsi
e-Learning tersebut sebagai berikut:
a. Suplemen; Dikatakan
berfungsi sebagai suplemen atau tambahan apabila peserta didik mempunyai
kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau
tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk
mengakses materi pembelajaran.
b. Komplemen; Dikatakan
berfungsi sebagai komplemen atau pelengkap apabila materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam
kelas (Lewis: 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement atau remedial bagi peserta
didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
c. Substitusi; Beberapa
perguruan tinggi di negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan
pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para
mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai
dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa.
2.
Tujuan e-Learning
Tujuan e-Learning adalah untuk
meningkatkan daya serap dari para pembelajar atas materi yang diajarkan,
meningkatkan partisipasi aktif dari para pembelajar,
meningkatkan kemampuan belajar mandiri, dan meningkatkan kualitas materi
pembelajaran. Diharapkan dapat merangsang pertumbuhan inovasi baru para
pembelajar sesuai dengan bidangnya masing-masing. e-Learning merupakan
alternatif pembelajaran yang relatif baru untuk menunjang keberhasilan proses
belajar mengajar dengan menggunakan berbagai fasilitas teknologi informasi,
seperti teknologi komputer baik hardware maupun software, teknologi jaringan
seperti local area network dan wide area network, dan teknologi telekomunikasi
seperti radio, telepon, dan satelit. Salah satu bagian dari kegiatan e-Learning
yang menggunakan fasilitas internet adalah distance learning, merupakan suatu
proses pembelajaran, dimana pengajar dan pembelajar tidak ada dalam satu ruangan
kelas secara langsung pada waktu tertentu; artinya kegiatan proses belajar
mengajar dilakukan dari jarak jauh atau tidak dalam satu ruangan kelas. Hal ini
memungkinkan terjadinya pembelajaran yang berkesinambungan, artinya pembelajar
bisa belajar setiap saat, balk slang maupun malam hari, tanpa dibatasi waktu
perternuan. Berbagai peluang tersebut diatas rnasih menghadapi berbagi
tantangan baik dari kesiapan iqfrastuktur teknologi informasi, masyarakat, dan
peraturan yang mendukung terhadap kelangsungan e-Learning. Dikemukakan juga
sepintas mengenai peluang dan tangangan media e-Learning, seperti pada media
voice mail, audiotape, audioconference, e-mail, online chat, web based
education, videotape, satellite videoconference, microwave videoconference, dan
cable atau broadcast television.
C.
Model-Model e-Learning
Berdasarkan definisi
dari ASTD, e-Learning bisa dibagi ke dalam empat model, yaitu:
1. Web-Based Learning
(Pembelajaran Berbasis Web)
Pembelajaran
berbasis web merupakan “sistem pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi
informasi dan komunikasi dengan antarmuka web” (Munir 2009:231). Dalam
pembelajaran berbasis web, peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran secara
online melalui sebuah situs web. Merekapun bisa saling berkomunikasi dengan
rekan-rekan atau pengajar melalui fasilitas yang disediakan oleh situs web
tersebut.
2. Computer-Based
Learning (Pembelajaran Berbasis Komputer)
Secara
sederhana, pembelajaran berbasis komputer bisa didefinisikan sebagai kegiatan
pembelajaran mandiri yang bisa dilakukan oleh peserta didik dengan menggunakan
sebuah sistem komputer. Rusman (2009: 49) mengemukakan bahwa pembelajaran
berbasis komputer merupakan “... program pembelajaran yang digunakan dalam
proses pembelajaran dengan menggunakan software komputer yang berisi tentang
judul, tujuan, materi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.”
3. Virtual Education
(Pendidikan Virtual)
Berdasarkan
definisi dari Kurbel (2001), istilah pendidikan virtual merujuk kepada suatu kegiatan
pembelajaran yang terjadi di sebuah lingkungan belajar di mana pengajar dan
peserta didik terpisah oleh jarak dan/atau waktu. Pihak pengajar menyediakan
materi-materi pembelajaran melalui penggunaan beberapa metode seperti aplikasi
LMS, bahan-bahan multimedia, pemanfaatan internet, atau konferensi video.
Peserta didik menerima mater-materi pembelajaran tersebut dan berkomunikasi
dengan pengajarnya dengan memanfaatkan teknologi yang sama.
4. Digital Collaboration
(Kolaborasi Digital)
Kolaborasi
digital adalah suatu kegiatan di mana para peserta didik yang berasal dari
kelompok yang berbeda (kelas, sekolah atau bahkan negara bekerja) bersama-sama
dalam sebuah proyek/tugas, sambil berbagi ide dan informasi dengan seoptimal
mungkin memanfaatkan teknologi internet.
D.
Kelebihan & Kekurangan e-Learning
e-Learning memiliki kelebihan
tersendiri bila dipandang sebagai sebuah alternatif untuk model pembelajaran
konvensional. Lebih lanjut, Riyana (2007: 22) menyebutkan kelebihan-kelebihan
tersebut sebagai berikut:
1. Interactivity (Interaktifitas);
tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous),
seperti chatting ataumessenger atau tidak langsung
(asynchronous), seperti forum, mailing list atau buku
tamu.
2. Independency (Kemandirian);
fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar.
Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centered
learning).
3. Accessibility (Aksesibilitas);
sumber-sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di
jaringan Internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber
belajar pada pembelajaran konvensional.
4. Enrichment (Pengayaan); kegiatan
pembelajaran, presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan,
memungkinkan penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video
streaming, simulasi dan animasi.
Adapun kekurangan e-Learning, diantaranya:
1. Untuk sekolah tertentu
terutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang mahal untuk
membangun e-Learning ini.
2. Siswa yang tidak
mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
3. Keterbatasan jumlah
komputer yang dimiliki oleh sekolah akan menghambat pelaksanaan e-Learning.
4. Bagi orang yang gagap
teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.
5. Materi tidak sesuai
dengan umur pebelajar.
6. Pemanfaatan hak cipta
untuk tugas-tugas sekolah.
7. Perkembangan yang
tidak terprediksikan.
8. Pengaksesan yang
memerlukan sarana tambahan.
9. Kecepatan mengakses
yang tidak stabil.
10. Kurangnya pengontrolan
kualitas.
E.
Proses Pengembangan e-Learning
Pengembangan
sebuah aplikasi e-Learning hendaknya juga diarahkan agar mampu
memenuhi empat filosofi e-Learning seperti yang dikemukakan
Cisco dalam Rusman (2009: 198) sebagai berikut:
1. e-Learning merupakan penyampaian
informasi, komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara online;
2. e-Learning menyediakan
seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model
belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis
komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi;
3. e-Learning tidak berarti
menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model
belajar tersebut melalui pengayaancontent dan pengembangan
teknologi pendidikan;
4. Kapasitas peserta
didik amat bervariasi tergantung pada bentuk, isi dan cara penyampaiannya.
Makin baik keselarasan antar content dan alat penyampai dengan
gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas peserta didik yang pada gilirannya
akan memberikan hasil yang baik.
F.
Pemanfaatan e-Learning dalam Pembelajaran
1. Media berbasis
komputer
Teknologi komputer mengalami kemajuan pesat
dan luar biasa, baik dari segi hardware maupu softwarenya. Seiring
berkembanganya program-program serta aplikasi yang dapat dipasang, komputer
memberikan kelebihan dalam berbagai bidang kegiatan pembelajaran seperti untuk
produksi media slide, media gerak dan media audio visual. Kiranya dalam era
sekarang ini seorang pendidik haruslah mampu menguasai teknologi komputer,
meski masih dalam taraf sederhana. Teknologi komputer sangat membantu dalam
menciptakan berbagai kreatifitas produksi media pembelajaran, baik berupa
gerak, audio maupun visual. Berbagai macam software yang dapat digunakan antara
lain Power Point, Macromedia Flash, Movie dan lain-lain. Aplikasi-aplikasi
tersebut dapat digunakan dalam berbagai materi pembelajaran baik eksak, sosial
maupun materi agama selama seorang pendidik bisa menyusunnya sesuai kebutuhan
dan target-target materi dan pembelajaran yang hendak dicapai, dan tentu tetap
didasarkan pada pencapaian tiga ranah peserta didik berikut ini:
i. Ranah
Kognitif
Dalam pencapaian ranah kognitif komputer dapat
digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep, prinsip, langkah-langkah, proses,
dan kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat menjelaskan konsep tersebut
dengan sederhana dengan penggabungan visual dan audio yang dianimasikan.
ii. Ranah
Afektif
Ranah afektif bisa dicapai dengan menggunakan
clip, film, suara atau video yang isinya menggugah perasaan. Peserta didik
diajak untuk menghayati desain yang dibuat serta mengenalisis baik gambar atau
suara.
iii. Ranah
Psikomotorik
Ranah psikomotorik dapat dicapai dengan
komputer dengan bentuk pembelajaran yang dikemas dalam bentuk games &
simulasi sangat bagus digunakan untuk menciptakan kondisi dunia kerja. Beberapa
contoh program antara lain; simulasi pendaratan pesawat, simulasi perang dalam
medan yang paling berat dan sebagainya.
2. Media berbasis
internet
a. E-Mail
Elekktronic Mail atau yang lebih dikenal
dengan E-Mail yang dapat diartikan “Surat Elektronik”, merupakan surat yang
pengirimannya menggunakan sarana elektronik yakni dengan menggunakan jaringan
internet. Perlu diketahui bahwa pesan yang dikirim berbentuk suatu dokumen atau
teks bahkan gambar, tentunya yang dapat diterima oleh komputer lain dengan
sarana internet. Peserta didik dapat menggunakan e-mail untuk mengumpulkan
informasi yang berkaitan dengan tugas, dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan
kepada pendidik di luar kegiatan belajar mengajar, dan dapat berkomunikasi
lewat e-mail dengan teman-teman, guru, maupun yang lainnya.
b. Blog
Istilah blog merupakan kependekan dari web
blog. Jika diidentifikasi dari penggalan katanya web dan log dapat diartikan
sebagai “catatan perjalanan” yang tersimpan dalam website. Blog dapat dijadikan
website yang berisikan materi pelajaran yang dituangkan dalam bentuk tulisan,
gambar, bahkan foto, maupun coretan warna warni yang membuatnya lebih menarik.
Blog sebagai media pembelajaran setidaknya ada tiga metode yang bisa diupayakan
yaitu:
1) Blog guru sebagai
pusat pembelajaran. Guru dapat menulis materi belajar, tugas, maupun bahan
diskusi di blognya kemudian murid bisa berdiskusi dan belajar bersama-sama di
blog gurunya tersebut.
2) Blog guru dan murid
yang saling berinteraksi. Guru dan murid harus memiliki blog masing-masing
sebagai sarana mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya.
3) Komunitas bloger
pembelajar. Sebuah blog sebagai pusat pembelajaran dengan guru-guru dan siswa
dari berbagai sekolah bisa tergabung dalam komunitas blogger pembelajar
tersebut.
c. Mesin Pencarian
(Search Engine)
Search Engine adalah sebuah program yang dapat
diakses melalui internet yang berfungsi untuk membantu para pengguna dalam
mencari apa yang diinginkan, dengan kata lain search engine dirancang khusus
untuk menyimpan katalog dan menyusun daftar alamat berdasarkan topik tertentu.
Mesin pencarian ini dapat digunakan untuk mengakses berbagai bahan belajar dan
informasi melalui media internet. Telah tersedia banyak situs search engine
yang dapat digunakan untuk mencari informasi di internet, diantaranya Yahoo,
bing, amazon.com, eBay, Wikipedia, Babylon, dan google. Tetapi yang sering kita
gunakan adalah google, yang dapat diakses melalui http://www.google.com. Untuk
melakukan pencarian informasi yang diinginkan, kita harus memasukkan kata kunci
(keyword) pada kotak pencarian.
G. Penerapan e-Learning
dalam Pembelajaran
Pembelajaran
elektronik (e-Learning) telah dimulai pada tahun 1970-an. Kegiatan belajar yang
bagaimanakah yang dapat dikatakan sebagai e-Learning? Apakah
seseorang yang menggunakan komputer dalam kegiatan belajarnya dan melakukan
akses berbagai informasi (materi pembelajaran) dari internet dapat dikatakan
telah dikatakan e-Learning?. Setidaknya ada 3 (tiga) hal penting sebagai
persyaratan kegiatan belajar elektronik (e-Learning), yaitu :
a. kegiatan pembelajaran
dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (misalnya penggunaan internet)
b. tersedianya dukungan
layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik, misalnya CD-Room,
atau bahan cetak
c. tersedianya dukungan
layanan tutor yang dapat membantu peserta didik apabila mengalami kesulitan.
Di
samping ketiga persyaratan tersebut masih dapat ditambahkan persyaratan
lainnya, seperti adanya : (a) lembaga yang mengelola kegiatan e-Learning, (b)
sikap positif dari peserta didik dan pendidik/tenaga kependidikan terhadap
teknologi komputer dan internet, (c) rancangan sistem
pembelajaran yang dapat dipelajari oleh setiap peserta didik, (d) sistem
evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta didik, dan (e)
mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.
Ada
beberapa pertimbangan untuk menggunakan e-Learning dewasa ini, antara lain :
a. harga perangkat
komputer semakin lama semakin terjangkau (tidak lagi diperlakukan sebagai
barang mewah).
b. Peningkatan kemampuan
perangkat komputer dalam mengolah data lebih cepat dan kapasitas penyimpanan
data semakin besar
c. Memperluas akses atau
jaringan komunikasi
d. Memperpendek jarah dan
mempermudah komunikasi
e. Mempermudah pencarian
atau penelusuran informasi melalui internet.
H.
Teknis Pelaksanaan E-Learning
Secara garis besar, teknis pelaksanaan
e-learning dapat dilakukan dengan dua cara, yakni: (1) hanya menggunakan media
Web biasa, dan (2) menggunakan software khusus e-learning berbasis Web yang
sering disebut dengan istilah learning management system (LMS). Pada cara
pertama, materi-materi pembelajaran disajikan pada sebuah situs Web. Siapapun
dapat mengakses materi secara bebas atau dibatasi dengan password (seperti
model langganan majalah/ jurnal). Komunikasi bisanya dilakukan menggunakan
e-mail atau forum diskusi khusus. Dalam hal ini biasanya tidak terdapat
fasilitas portofolio, sehingga dosen tidak memiliki informasi siapa yang telah
mengakses materi tertentu dan kapan akses dilakukan. Yang diperlukan untuk
menggunakan pendekatan ini hanyalah sebuah server Web.
Pada cara kedua, selain diperlukan server Web
juga diperlukan sebuah software (LMS) yang berfungsi untuk mengelola
e-learning. Software (sistem) LMS biasanya mempunyai fasili tas-fasilitas yang
berfungsi untuk (1) administrasi mahasiswa, (2) penyajian materi, (3) komunikasi,(4)
pencatatan (portofolio), (5) evaluasi, bahkan (6) pengembangan materi. Berbeda
dengan akses ke Web biasa, akses ke LMS biasanya memerlukan nama user dan
password, dan biasanya hanya dosen dan mahasiswa yang terdaftar yang dapat
melakukannya. Sistem LMS akan mencatat semua aktivitas yang dilakukan mahasiswa
selama mereka masuk ke dalam system e-learning. Pada gambar berikut menyajikan
diagram arsitektur sistem e-learning berbasis LMS (diadopsi dari Kojhani,
2004).
Gambar 1 Arsitektur
Sistem E-Learning
Gambar 2 Alur Belajar dalam Bahan Ajar Berbasis E-learning
PERMASALAHAN:
1.
apakah dengan pembelajaran e-learning siswa dapat lebih mudah
belajar dan materi yang disampaikan dapat terserap dengan baik?
2. e-learning bersifat
individual sehingga siswa yang aktif dan cepat menyerap materi pelatihan akan
bisa maju dengan lebih cepat.lalu bagaimana dengan siswa yang tidak aktif? Dan
bagaimana cara mengatasi hal tersebut?
3. apakah e-learning dapat
diterapkan pada semua materi pelajaran?
4.
Bagaimana cara anda mengatasi atau meminimalisir hal yang mungkin
terjadi akibat dari kekurangan e-learning yang anda buat jika anda menjadi
seorang guru?