A. Pengertian
Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran) sehingga dapat
merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar
untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Ada
beberapa jenis media pembelajaran yaitu, teks, media audio, media visual, media
proyeksi gerak, dan manusia.
Dalam proses pembelajaran, media memiliki kontribusi dalam
meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu
pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada
kegiatan pembelajaran.Penggunaan media pembelajaran dapat membantu meningkatkan
pemahaman dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari. Maka
dapat diambil kesimpulan. manfaat dari penggunaan media pembelajaran di
dalam proses belajar mengajar dapat mengarahkan perhatian siswa
sehingga menimbulkan motivasi untuk belajardan materi yang diajarkan akan lebih
jelas, cepat dipahami sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa.
Pada awalnya multimedia hanya mencakup media yang menjadi
konsumsi indra penglihatan (gambar diam, teks, gambar gerak video, dan gambar
gerak rekaan/animasi), dan konsumsi indra pendengaran (suara). Dalam
perkembangannya multimedia mencakup juga kinetik (gerak) dan bau yang merupakan
konsupsi indra penciuman. Multimedia mulai memasukkan unsur kinetik sejak
diaplikasikan pada pertunjukan film 3 dimensi yang digabungkan dengan gerakan
pada kursi tempat duduk penonton. Kinetik dan film 3 dimensi membangkitkan
sense realistis.
Baru mulai menjadi bagian dari multimedia sejak ditemukan
teknologi reproduksi bau melalui telekomunikasi. Dengan perangkat input
pendeteksi bau, seorang operator dapat mengirimkan hasil digitizing bau
tersebut melalui internet. Komputer penerima harus menyediakan perangkat output
berupa mesin reproduksi bau. Mesin reproduksi bau ini mencampurkan berbagai
jenis bahan bau yang setelah dicampur menghasilkan output berupa bau yang mirip
dengan data yang dikirim dari internet. Dengan menganalogikan dengan printer,
alat ini menjadikan feromon-feromor bau sebagai pengganti tinta. Output bukan
berupa cetakan melainkan aroma (Arfan:2013).
Disini dapat digambarkan bahwa multimedia adalah suatu
kombinasi data atau media untuk menyampaikan suatu informasi sehingga informasi
itu tersaji dengan lebih menarik
B.
Kategori Multimedia
Multimedia dapat di definisikan menjadi 2 kategori, yaitu
multimedia content production dan multimedia communication dengan definisi
sebagai berikut :
Multimedia Content Production adalah penggunaan dan
pemrosesan beberapa media (teks, audio, graphics, animation, video dan
interactivity) yang berbeda untuk menyampaikan informasi atau menghasilkan
produk multimedia (music, video, film, game, intertaintment, dll.) Atau
penggunaan sejumlah teknologi yang berbeda yang memungkinkan untuk
menggabungkan media (teks, audio, graphics, animation, video, dan
interactivity) dengan cara yang baru untuk tujuan komunikasi. Dalam kategori
ini media yang digunakan adalah :
· media
teks
· media
audio
· media
video
· media
animasi
· media
graph / image
· media
interactivity
· media
spesial effect
Multimedia Communication
adalah penggunaan media (massa), seperti televisi, radio, media cetak dan
internet untuk mempublikasikan / menyiarkan / mengkomunikasikan material
advertising, publicity, entertaintment, news, education, dll. Dalam kategori
ini media yang digunakan adalah :
· TV
· Radio
· Film
· Media
Cetak
· Musik
· Game
· Entertainment
· Tutorial
· ICT
(Internet)
C.
Media Pembelajaran
Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah
sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film,
video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969)
mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk
cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga
pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu
yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan
peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri
peserta didik. Jadi, apapun alat yang dapat membantu/mempermudah guru untuk
menyampaikan suatu konsep kepada siswa itu bisa di sebut media pembelajaran,
walaupun bisa berbentuk batu atau daun sekalipun. Apa lagi pada konsep-konsep
pelajaran kimia yang kompleks dan cenderung abstrak lebih banyak simbol-simbol
sehingga sangat sulit untuk memahaminya,maka sangat di butuhkan sebuah media
pembelajaran yang dapat membantu/mempermudah memahami kosep-konsep tersebut.
D. Landasan Penggunaan Media
Pembelajaran
Penggunaan media dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk
meningkatkan kualitas prestasi belajar. Diharapkan proses pembelajaran menjadi
efektif, interaktif, dan efisien.
1.
Landasan
filosofis.
Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai
jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses
pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam
pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Akan tetapi, siswa dihargai harkat
kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat
belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak
berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu
muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses
pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki
kepribadian, harga diri,motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda
dengan yang lain, maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak,
proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
2.
Landasan
psikologis.
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar,
maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat
mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping
memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi
serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya
diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara
efektif. Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat
sehingga dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang
diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan
pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah
mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinum
konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran, ada
beberapa pendapat.
·
Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses
pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau
film (iconic representation of
experiment) kemudian ke belajar dengan simbul, yaitu menggunakan
kata-kata (symbolic representation).
Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk
orang dewasa.
·
Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari
media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia
membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling
abstrak.
·
Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai
dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa
sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap
kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat
kejadian yang disajikan dengan simbol.
Salah satu gambaran yang paling
banyak digunakan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam
pembelajaran adalah kerucut pengalaman Dale (Dale’s Cone of Experience).
Dalam proses pembelajaran, media
memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran
media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi
memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran. Kerucut pengalaman Dale diatas
mengklasifikasikan media berdasarkan pengalaman belajar yang akan diperoleh
oleh peserta didik, mulai dari pengalaman belajar langsung, pengalaman belajar
yang dapat dicapai melalui gambar, dan pengalaman belajar yang bersifat
abstrak. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan peserta didik dapat
menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan
pesan-pesan dalam simbol-simbol tertentu (encoding) dan peserta didik sebagai penerima menafsirkan
simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding).
3. Landasan teknologis.
Sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi dan informasi mengalami
kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya berpengaruh terhadap pola
komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang semakin besar terhadap
pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan
tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan pola tradisional, karena cara ini
tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Hasil
teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam pendidikan. Banyak yang dharapkan
dari alat- alat teknologi pendidikan yang membantu mengatasi berbagai
masalah pendidikan sehingga dapat membantu siswa belajar secara
individual dengan efektif dan efisien.
Dalam konteks pendidikan yang lebih
umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan
pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk
memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian, aspek-
aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian,
perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau
software.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja
mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media
pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan
disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi,
pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan
prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun
pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para
teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki
keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki
karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran
itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan
dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya.
Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam
manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
a) Meningkatkan produktivitas
pendidikan ( Can make education more productive). Dengan media dapat
meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju
belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan
mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina
dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b) Memberikan kemungkinan pembelajaran
yang sifatnya lebih individual (Can make education more
individual).Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam
variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran,
dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan
dan kesempatan belajarnya.
c) Memberikan dasar yang lebih ilmiah
terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base). Artinya
perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan
pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa,
karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan
disaign pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
d) Lebih memantapkan pembelajaran (Make
instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
e) Dengan media membuat proses
pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more
immediate). Karena media mengatasi jurang pemisah antara peserta didik dan
sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam
memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekonkritan” meskipun tidak secara
langsung.
f) Memungkinkan penyajian pembelajaran
lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal)
4. Landasan empiris.
Temuan-temuan penelitian menunjukkan
bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik
belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan
mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media
yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki
tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran
menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara
siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media
audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan
menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual.
Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media
pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus
mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik
materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
5. Landasan
Historis
Yang dimaksud dengan landasan
historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran
ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya
konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923.
Menurut Piaget dalam Slameto (2010: 13)
menyampaikan bahwa ada tiga tahap perkembangan mental anak, yaitu: 1) berfikir
secara intuitif + 4 tahun, 2) beroprasi secara kongkrit + 7 tahun, 3) beroprasi secara
formal + 11 tahun. Proses pembelajaran
di lingkungan belajar siswa harus disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa.
Anak usia sekolah dasar umumnya berada pada tahap perkembangan mental beroprasi
secara kongkrit. Oleh sebab itu pada pembelajarana di sekolah dasar guru harus
memberikan kondisi pembelajaran yang nyata.
Media
pembelajaran dapat digunakan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang nyata.
Dengan penggunaan media pembelajaran, pesan yang sifatnya abstrak dapat diubah
menjadi pesan yang kongkrit. Misalnya guru menyampaikan pesan tentang teknik
membaca memindai, ketika guru hanya menjelaskan maka siswa akan kesulitan
memahami teknik membaca memindai, namun ketika guru menggunakan sebuah majalah,
buku atau koran sebagai media dan menunjukan secara langsung bagaimana teknik
membaca memindai, maka siswa mudah menerima pesan yang disampaikan guru.
Selanjutnya,
landasan teori penggunaan media dalam proses belajar disampaikan oleh Dale
(1969) dalam Arsyad (2013: 13) yaitu Dale’s Cone of experience (Kerucut
Pengalaman Dale) “Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga
tingkatan pengalaman yang dikeluarkan oleh Burner”. Dalam kerucut tersebut
dijelaskan bahwa pengalaman secara langsung (kongkrit) memberikan hasil belajar
paling tinggi. Dilanjutkan oleh benda tiruan, dramatisasi, karyawisata,
televisi, gambar hidup pameran, gambar diam, lambang visual dan lambang kata
(abstrak) yang memberikan porsi paling sedkit. Meskipun begitu Arsyad
(2013: 13) menyampaikan bahwa urutan-urutan ini tidak berarti proses belajar
dan interaksi mengajar belajar harus selalu pengalaman langsung, tetapi
dimualai dari pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan. Untuk lebih
jelasnya berikut ini merupakan Kerucut Pengalaman Dale.
PERMASALAHAN :
1.
Jika
salah satu landasan di atas tidak terpenuhi apakah masih dapat dikatakan
multimedia pembelajaran?
2.
Apakah
landasan yang paling mendasar dalam pemilihan suatu media yang sesuai dengan pembelajaran
yang berlaku?
3. Jelaskan kriteria pemilihan media yang
tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa itu seperti apa?
Saya mencoba menjawab permasalahan nomor 3.
BalasHapusKriteria media pembelajaran yang baik diantaranya:
1. Kualitas Tampilan yang Menarik: hal yang penting dan sangat berpengaruh terhadap tingkat psikologi (ketertarikan) siswa terhadap media yang anda buat.
2. Memberikan Pengalaman kepada Siswa: Dengan pengalaman tersebut, seorang siswa menjadi bertambah kekayaan intelektualnya dan sampai pada akhirnya mampu mengaplikasikan ilmu yang yang telah didapatkannya.
3. Memiliki Ciri Khas: memiliki keunikan, sehingga dapat diingat dalam jangka waktu lama.
4. Mudah dalam Penggunaan: penggunaannya yang menyulitkan bukan membuat siswa menjadi bersemangat dalam belajar malah membuat siswa menjadi frustasi dan enggan untuk belajar.
5. Meningkatkan hasil belajar: pada dasarnya media pembelajaran yang dibuat oleh seorang guru tujuannya adalah sebagai alat untuk menopang pembelajaran siswa, yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas serta prestasi belajar siswa itu sendiri.
Saya akan menjawab permasalahan yang ketiga yaitu Apakah landasan yang paling mendasar dalam pemilihan suatu media yang sesuai dengan pembelajaran yang berlaku?
BalasHapusjawabannya adalah Landasan filosofis. Karena landasan filosofi ini merupakan landasan yang mendasar dan utama dalam pemilihan media. Dalam landasan filosofi ini Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Akan tetapi, siswa dihargai harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.
Saya akan menjawab pertanyaan nomor 1
BalasHapusMenurut saya jika landasan di atas ada yang tidak ada, tetap saja dikatakan multimedia dimana pengertian multimedia itu gabungan dari media-media sehingga dapat menarik